Fakultas Pendidikan Psikologi UNJ Gelar Yudisium Semester 119 di Halimun

WebPsi, JAKARTA — Selasa (30/1), digelar kegiatan yudisium di Aula lantai 1 Kampus, Halimun, Jakarta Selatan. Dimana yudisium merupakan salah satu proses akademik yang berkenaan dengan penetapan nilai dan kelulusan mahasiswa dari seluruh proses akademik. Jadi dalam kegiatan yang dihadiri oleh Dekan Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPPsi UNJ), para Wakil Dekan, Koordinator Program Studi S1 dan S2, para dosen, Koorla Akademik dan Kemahasiswaan, Koorla Umum dan Keuangan, para tenaga kependidikan, dan pastinya 30 mahasiswa peserta yudisium, mahasiswa mengetahui nilai yang diperolehnya dalam sidang skripsi yang berlangsung pada 22-23 Januari 2024. Tidak hanya itu, pada kegiatan ini juga diberikan penghargaan untuk mahasiswa dengan skripsi terbaik, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, dan skor Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) tertinggi. Kegiatan dibuka sekitar pukul 10.30 WIB oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan sambutan dari dekan, pembacaan nilai yudisium oleh koorprodi S1, serta kesan pesan dari Sandy Jaya Nurhadi sebagai penerima IPK tertinggi dan Fadhilah Rana Qamara sebagai perwakilan yudisiawan/ti. Acara ditutup dengan pemberian selamat kepada yudisiawan/ti oleh seluruh hadirin dan foto bersama. Acara yudisium pun menjadi tambah meriah dengan adanya photo booth spin 360 yang dapat digunakan para hadirin untuk mengabadikan momen bahagianya.

Berikut adalah para penerima penghargaan tersebut:

  1. IPK tertinggi diraih oleh Sandy Jaya Nurhadi sebesar 3.93
  2. Skripsi terbaik diraih oleh Aulia Luthfiati Khasanah yang berjudul “Pengaruh Psychological Capital dan Social Support terhadap Academic engagement pada Mahasiswa Bekerja”
  3. Skor SKPI tertinggi diraih oleh Fathimah Azzahrah dan Sri Purborini

Dalam kesempatan terpisah yang dilakukan melalui media Whatsapp, Sandy Jaya Nurhadi yang biasa disapa dengan Jaya menyatakan kesannya sebagai peraih IPK tertinggi, “Saat pertama kali mendengar bahwa saya lulus dengan IPK tertinggi tentu ada rasa senang dan bangga kepada diri sendiri. Menjadi lulusan dengan IPK tertinggi merupakan pencapaian yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena saya tidak pernah menargetkan ini, melainkan saya menanamkan pada diri saya untuk memberikan yang terbaik pada setiap mata kuliah yang saya pelajari. Pencapaian ini tentu merupakan buah manis dari hasil perjuangan kuliah selama 3,5 tahun ini yang tentunya tidak mudah, terlebih lagi saya harus menjalani kuliah secara daring karena Covid-19 selama 4 semester. Saya menganggap pencapaian ini tidak cukup berhenti sampai di sini, saya merasa bahwa saya harus dapat mempertanggungjawabkan pencapaian ini dan pencapaian ini merupakan pijakan untuk saya dapat mengejar pencapaian lainnya di kemudian hari”.

Luna sapaan dari Aulia Luthfiati Khasanah pada kesempatan terpisah melalui media Whatsapp juga memberikan tips agar dapat memperoleh skripsi terbaik, “tipsnya mungkin konsisten, dengerin kata dospem (red. dosen pembimbing) sama banyak berdiskusi dengan dospem terutama kalau ada yang bingung. Kalau dari yang saya rasain, memang bener, ketertarikan sama skripsi sendiri itu punya pengaruh yang besar ke semangat dan motivasi pas mengerjakan, walaupun pas itu masih harus kuliah dan juga ada magang dan kerja. Selain itu, mungkin coba berani untuk menyajikan hal baru yang beda dari skripsi yang lain. Terakhir, mungkin libatkan Tuhan dalam tiap prosesnya sama niatnya untuk orang tua. inshaAllah pas ada kesulitan dikasih jalan terus”.

Sri Purborini, yang biasa disapa dengan Rini pun turut menyampaikan tipsnya agar dapat memperoleh skor SKPI tertinggi, “Awalnya saya gak begitu ngetrack atau ngehitung poin gitu sih. Cuma emang kebetulan sempat ambis (red. berambisi) lomba, pengen ikut ini itu, dsb (red. dan sebagainya). Meski begitu, saya sedikit pernah kepengen buat bisa dapat predikat karena terinspirasi oleh abang tingkat saya dulu di Recycle (red. salah satu komunitas kemahasiswaan di FPPsi UNJ yang bergerak dibidang riset dan prestasi akademik) yang pada saat itu sebagai MC inaugurasi sempat menyebutkan dia sebagai lulusan berprestasi bidang akademik. Trus saya dalam hati kaya bilang “ih pengen juga deh”. Rini pun menambahkan bagaimana caranya agar sifat ambisiusnya tersebut dapat tersalurkan ke hal yang positif, “manfaatkan kesempatan kalian selagi menjadi mahasiswa. Seperti, mumpung masih jadi mahasiswa ikuti macam-macam lomba. Selain karena kompetisi di luar sana kebanyakan dikhususkan untuk mahasiswa, kita juga masih punya kesempatan buat lomba dibayarin segala keperluan lombanya oleh kampus”. Sedangkan menurut Fathim, sapaan dari Fathimah Azzahrah, tipsnya untuk memperoleh skor SKPI tertinggi yaitu, “Pertama, sebagai mahasiswa sudah seharusnya mengetahui minat dan bakat. Untuk apa? Hal ini guna untuk mengasah minat atau bakatmu di ajang kompetisi, volunteer, atau bahkan kegiatan lainnya. Kedua, memiliki kemauan atau niat untuk mengembangkan diri di bangku perkuliahan. Poin kedua ini justru sangat penting, karena banyak di antara mahasiswa yang sudah mengetahui minat dan bakatnya namun tidak mau untuk diasah. Ketiga, terapkan learning by doing. Ketika gagal, jangan menganggap bahwa duniamu berakhir. Anggaplah bahwa kamu sedang menghabiskan jatah kegagalan di kehidupanmu. Coba lagi, karena pengalaman merupakan guru terbaik dalam kehidupan kita😊. Dari semua poin di atas, tentu minta restu dan doa kepada kedua orang tua, dosen, dan orang tercinta. Karena dukungan sosial merupakan komponen terpenting di dalam kehidupan kita sehari-hari, terkhusus saat menjadi mahasiswa. #SalamBerprestasi”

Terakhir, Jaya pun menyampaikan pesan dan tipsnya agar dapat memperoleh IPK tertinggi, “Saya memiliki beberapa tips yang dapat dijadikan referensi dalam menjalani perkuliahan. Pertama, saya meniatkan di dalam setiap usaha yang saya lakukan selama ini semata-mata demi membahagiakan orang tua. Pasti kita sudah sering mendengar wejangan tersebut, ternyata memang benar, bahwa jika diniatkan untuk orang tua, maka di saat saya mengalami penurunan motivasi kuliah, saya ingat bahwa dibalik kesulitan ini terdapat impian untuk membahagiakan orang tua, sehingga saya merasa termotivasi kembali. Kedua, saya selalu bersemangat kuliah dari awal hingga akhir semester pada setiap semesternya. Banyak mahasiswa yang hanya semangat saat awal-awal semester, tetapi menurun semangatnya menjelang akhir semester. Dengan selalu bersemangat, maka akan membuat langkah-langkah yang dilalui tidak terasa berat. Terakhir, berikan yang terbaik pada setiap semester yang dijalani. Saya selalu berusaha maksimal dalam mengerjakan setiap tugas-tugas yang diberikan, khususnya pada tugas-tugas dalam bentuk project based. Selain itu, semaksimal mungkin dapat menyimak pengajaran yang dilakukan dosen di kelas, dapat juga dilakukan dengan mencatat materi yang disampaikan”.

[sf/sf]