Kolaborasi Psikologi UNJ dan MDTV: Menelaah Isu Perselingkuhan melalui Film La Tahzan

Jakarta, 28 Juli 2025 – Suasana Aula Maftuchah Yusuf di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berubah menjadi ruang penuh refleksi dan emosi ketika ratusan mahasiswa dan akademisi berkumpul dalam acara “MDTV Goes to Campus with La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka”. Mengusung tema “The Anatomy of Betrayal: Understanding the Complexity of Infidelity”, acara ini membuka ruang diskusi tentang rumitnya isu perselingkuhan melalui sudut pandang psikologi dan sinema.

Para pemeran utama film La Tahzan, Marshanda (Alina) dan Elmand (Anggi) hadir langsung untuk berbagi kisah di balik layar, bersama Dian Sasmita (Associate Producer) dan Astrid Suryatenggara (Chief Communication Officer MD Entertainment). Mereka menceritakan proses kreatif yang mereka jalani dalam mengangkat isu sensitif tentang luka, kepercayaan, dan pengkhianatan. Dr. Gumgum Gumelar, F.R., Dekan Fakultas Psikologi UNJ, membuka acara ini dengan sambutan hangat dan melihat agenda ini sebagai bentuk kolaborasi yang menarik antara dunia akademik dan industri kreatif. Menurutnya, sinema bisa menjadi media edukatif yang kuat jika disandingkan dengan kajian ilmiah.

Selain itu, hadir juga Irma Rosalinda, M.Si., sebagai Dosen Psikologi UNJ, yang memberikan pandangan mendalam dari sudut pandang psikologi. Ia menjelaskan bahwa perselingkuhan merupakan fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. “Setiap kasus punya latar berbeda. bisa karena ketertarikan fisik, tekanan finansial, kebutuhan akan validasi, atau perasaan tidak dihargai oleh pasangan,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa isu ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Korban perselingkuhan adalah salah satu kelompok yang paling banyak datang ke psikolog. Film ini menyampaikan pesan penting: bahwa relasi butuh kesadaran, empati, dan keberanian untuk refleksi diri. Sering kali orang ketiga adalah sosok yang justru paling dekat dan dipercaya,” tambahnya.

Film La Tahzan sukses menyentuh hati para peserta. Lionly Girly Pane, sebagai salah satu mahasiswa UNJ menyatakan bahwa acara ini menyentuh sisi emosionalnya. “Filmnya membuka mata tentang betapa dalamnya luka akibat pengkhianatan. Dampaknya bisa merambat ke banyak orang, tidak hanya pasangan,” ujarnya. Sementara itu, Syarah Nabila,  menilai bahwa acara ini sangat relevan bagi mahasiswa psikologi. “La Tahzan memberikan refleksi bahwa meski hidup penuh luka, kita tetap bisa bertahan dan menemukan harapan,” katanya.

Dari sisi panitia, kolaborasi ini menjadi pengalaman yang berharga. Darriel Rasya menyebutkan bahwa MDTV sebagai mitra yang sangat kooperatif. “Konsep acaranya keren dan bisa jadi model promosi film yang edukatif di kampus,” ungkapnya. Ditambahkan oleh Edel Niken Priandini yang menyatakan bahwa acara ini sebagai tonggak awal BEM Psikologi UNJ menjalin kerja sama dengan dunia kreatif. “Format sharing session yang hangat memancing diskusi yang jujur dan reflektif. Isu yang diangkat benar-benar dekat dengan kehidupan kita sekarang,” tuturnya.

Melalui film La Tahzan, tema perselingkuhan tak hanya hadir sebagai konflik film semata, tapi juga sebagai pintu masuk untuk memahami relasi, luka, dan proses penyembuhan. Acara ini membuktikan bahwa film bukan sekadar hiburan, melaninkan bisa menjadi cermin sosial, sarana edukasi, dan ruang diskusi lintas disiplin yang bermakna bagi generasi muda.