Kiprah Internasional Dosen Fakultas Psikologi UNJ dalam AMPC 2026 di National University of Singapore

Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan akademik bertaraf global melalui partisipasi salah satu dosennya, Anggi Mayangsari, M.Psi., Psikolog, dalam ajang AMPC 2026 yang diselenggarakan di National University of Singapore (NUS), Singapura. Keikutsertaan ini terlaksana atas arahan Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UNJ, Herdiyan Maulana, Ph.D., melalui pengajuan Hibah International Conference EQUITY UNJ sebagai bentuk dukungan institusi terhadap pengembangan jejaring dan kontribusi ilmiah internasional.

Keputusan Ibu Anggi untuk mengikuti konferensi ini berangkat dari keinginannya untuk berbagi sekaligus memperdalam wawasan mengenai penerapan psikologi dalam perkembangan teknologi digital. Ia melihat AMPC 2026 sebagai ruang strategis untuk mendialogkan gagasan, memperkaya perspektif, serta membuka peluang kolaborasi riset lintas negara. Bagi Ibu Anggi, konferensi internasional bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang pertemuan pemikiran yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan bersama.

AMPC 2026 mengusung tema besar “Applying Mathematical and Quantitative Psychology to Real World Complex Problems.” Tema ini menekankan pentingnya pendekatan matematis dan kuantitatif dalam menjawab persoalan kompleks di dunia nyata. Salah satu subtema yang relevan dengan bidang yang ditekuni Ibu Anggi adalah Mental Health and Digital Health System, yang secara langsung berkaitan dengan risetnya mengenai kesehatan mental mahasiswa dalam konteks layanan digital.

Previous slide
Next slide

Dalam forum tersebut, Ibu Anggi mempresentasikan penelitian berjudul “Preliminary Insights for Designing a Digital Well-Being Space: University Students’ Mental Health and Digital Help-Seeking.” Penelitian ini menyoroti bagaimana status kesehatan mental memengaruhi dorongan individu untuk memanfaatkan layanan konseling digital sebagai bentuk Psychological First Aid. Temuan utama menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung membutuhkan layanan kesehatan mental digital yang dapat diakses kapan saja tanpa hambatan administratif maupun antrean panjang. Sementara itu, realitas di banyak perguruan tinggi menunjukkan bahwa layanan konvensional sering kali belum mampu memenuhi kebutuhan akses yang cepat dan fleksibel.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menawarkan rancangan Well-Being Space sebagai layanan kesehatan mental digital bagi civitas akademika di perguruan tinggi. Konsep ini diharapkan mampu menjadi solusi atas keterbatasan layanan yang ada, sekaligus menghadirkan ruang yang aman, responsif, dan mudah dijangkau bagi mahasiswa maupun sivitas lainnya. Gagasan ini mendapatkan respons positif dalam diskusi konferensi karena dinilai relevan dengan tantangan kesehatan mental generasi muda di berbagai negara.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Ibu Anggi selama mengikuti AMPC 2026 adalah atmosfer akademik yang terasa hidup dan penuh antusiasme. Setiap peserta menunjukkan perhatian serius terhadap presentasi yang disampaikan, disertai rasa ingin tahu yang tinggi. Diskusi berlangsung dinamis dan reflektif, menciptakan ruang belajar yang bukan hanya formal, tetapi juga kolaboratif dan inspiratif. Suasana tersebut memperkuat keyakinannya bahwa komunitas ilmiah internasional memiliki semangat yang sama untuk terus bertumbuh dan saling mendukung.

Dari pengalamannya, Ibu Anggi membagikan pesan penting bagi mahasiswa maupun dosen yang ingin mengikuti konferensi internasional. Menurutnya, kunci utama adalah memiliki pikiran yang terbuka (open-minded) dan kemauan untuk belajar. Ia mengajak untuk memandang konferensi sebagai playground—ruang eksplorasi yang memungkinkan setiap individu berkembang tanpa harus merasa terbebani oleh kekhawatiran akan pengalaman atau kemampuan bahasa. “Just take a baby step,” pesannya, menegaskan bahwa langkah kecil yang berani dapat membuka pintu menuju kesempatan yang lebih besar.

Lebih lanjut, Ibu Anggi juga menekankan pentingnya dukungan institusi dalam mendorong keterlibatan dosen pada forum akademik internasional. Ia berharap institusi tidak hanya berfokus pada program internal, tetapi juga secara aktif memberikan dukungan positif terhadap partisipasi global. Terlebih, ketika program studi telah menyandang akreditasi internasional, maka keterlibatan dalam jejaring global menjadi bagian penting dari konsistensi dan penguatan reputasi tersebut. Dengan membuka diri terhadap perspektif baru dan membangun kolaborasi lintas negara, dosen maupun institusi dapat berkembang secara lebih adaptif dan berkelanjutan.

Partisipasi Ibu Anggi Mayangsari dalam AMPC 2026 tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga representasi komitmen Fakultas Psikologi UNJ dalam mengintegrasikan keilmuan psikologi dengan dinamika global serta inovasi teknologi. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa Fakultas Psikologi UNJ terus bergerak maju, memperluas jejaring, dan berkontribusi aktif dalam menjawab tantangan kesehatan mental di era digital.