Cerita tentang Belajar Hidup di Negeri Kanguru

Cerita tentang Belajar Hidup di Negeri Kanguru

Salah satu dosen Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta tengah melanjutkan pendidikannya di luar negeri, tepatnya di Australia. Beliau ingin berbagi cerita segala kegiatan dan hal-hal menarik yang ditemui selama berada di negeri kanguru ini.
Semoga apa yang diceritakan akan memberikan inspirasi dan menambah informasi baru bagi semua.
Selamat berjuang Pak Herdi, semoga dilancarkan proses studinya dan segera berkumpul kembali di FPPsi.
Salam hormat dari kami (keluarga Psikologi UNJ)

——————————————————————————————
.

Belajar sejatinya tidak mengenal tempat dan waktu, namun takdir Tuhan yang membawa kita pada proses dan pengalaman belajar yang berbeda. Saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di School of Psychology, Faculty of Health, Queensland University of Technology (QUT) di Brisbane, Australia atas beasiswa LPDP pada tahun 2015.

Saat ini saya ada di tahun ke-2 mahasiswa doctoral psikologi di QUT. QUT adalah salah satu kampus “baru” di Australia namun cukup punya reputasi. Memang ada kata teknologi di belakang nama kampus ini karena memang kampus ini sejatinya berorientasi dan berciri khas kan hal-hal berbau demikian (seperti ITB dan ITS di Indonesia). Saat ini saya sedang menjalani penelitian yang saya beri tema populer “Indonesian Happiness Project”. Karena penelitian ini pada dasarnya mengeksplorasi bagaimana masyarakat Indonesia mengalami kebahagiaannya dan bagaimana cara saya mengukurnya. Terdengar sangat sederhana, karena memang sejatinya studi S3 tidak ubahnya di S1 dan S2, yaitu semua masih belajar. Mahasiswa S3 tidak dianggap punya kasta tinggi, dia bahkan harus belajar bagaimana cara mencari jurnal dan membaca jurnal dengan benar, bahkan cerita tentang stress nya ketemu dengan dosen pembimbing pun tidak kalah seru dibanding teman-teman di S1.

Brisbane adalah kota terbesar ke-3 di Australia. Berada di semenanjung timur benua Australia membuat cuaca Brisbane tidak se “ekstrim” kota lainnya. Udara yang bersih dan kota yang tertata rapih jadi salah satu cara “short escape” saya dari tumpukan jurnal dan kertas-kertas analisa di meja kerja.
Saya ditemani oleh keluarga saya disini, dan benar adanya bahwa keluarga adalah instrument coping stress kita utama selain berdoa. Mengingat tingkat stress mahasiswa S3 sangat tinggi dimana-mana. Akhirnya, bukan dimana dan dengan siapa kita belajar, tapi apa yang kita dapat dari proses belajar tersebut.

Brisbane, 2017
HM
*Ditulis di tengah2 pusing nya menganalisa data